4/24/17

poster ff

3/19/17

Contoh ; Studi Kasus MPRSA - Illegal Recording

HASIL DISKUSI KASUS

I. ILLEGAL RECORDING
1. Identify the ethical issue and/or conflicts.
Jawab : 
perizinan untuk melakukan illegal recording yang berbeda setiap negara.

2. Determine internal/external factors likely to influence your decision.
Jawab :
- ketakukan akan adanya kesalah pahaman sehingga akan menyebabkan tercemarnya nama baik dari perusahaan tersebut sehingga tidak ada perkembangandari masalah tersebut. (internal)
- adanya sanksi dari kebijakan pemerintah setempat dan menurunnya kepercayaan dari masyarakat terhadap pelayanan kita (eksternal)

3. Choose key values that apply .
Jawab : 
- kejujuran : dalam memeberikan informasi harus sesuai dengan kenyataan dan situasi yang ada.
- ahli : dalam memutuskan suatu keputusan akan lebih baik jika dipengaruhi oleh pengalamanbpengalaman yang telah ada, pengetahuan dan hasil riset .
- keadilan : keputusan yang diambil tidak akan merugikan pihak-pihak yang terkait.

4. Consider parties  who will be affected by your decision and evaluate the public relations professional's obligation to each one .
Jawab :
- leader of environmental
- CEO

5. Select ethical principles to guide your decision-making.
Jawab :
Dalam membuat keptusan prinsip tanggung jawab, keadilan, kejujuran, otonomi harus di terapkan dalam membuat suatu keputusan.
Kejujuran : dengan mengambilanbkeputusan untuk  mengambil rekaman dengan prosedur yang salah, kita telah melanggar prinsip ini.
Tanggung Jawab : dengan memutuskan akan adanya rekaman tersebut atau tidak, seorang pr harus mempersiapkan diri akan setiap resiko yang akan mungkin terjadi.
Keadilan : bila merekam percakapan tersebut tanpa adanya izin atau sepengetahuan pihak pihak akan memberikanbkeuntungan  untuk client kita saja. Tetapi bila melakukan rekaman dengan izin atau sepengetahuan beberapa pihak, tidak akan merugikan pihak pihak lain.

6. Make your decision and offer a brief rational
Jawab :
Keputusan yang telah diambil setelah melalui langkah langkah diatas adalah dengan mengambil rekaman saat pertemuan tersebut. Dilain sisi kami akan melakukan langkah lanhkah berikut yaitu :
* mengkonsultasikan kepada pengacara tesebut mengenai hal hal berikut :
  - apakah negara ini memperbolehkan merekam dengan sepengetahuan satu pihak atau semua  pihak
 - kekuatan hukum yang melekat pada rekaman tersebut
* menginformasikan kepada seluruh partisipan bahwa akan dilakukannya perekaman terhadapat perbincangan selama pertemuan tersebut
* meminta izin kepada seluruh partisipan perihal tindakan yang akan dilakukan
* memulai rekaman setelah adanya persetujuan dari semua pihak.
* kita sebagai PR harus berada dalam pertemuan tersebut dalam rekaman tersebut

Oleh karena itu, kami menggangap bahwa diperbolehkan untuk melakukan rekaman apabila telah adanya persetujuan sehingga tidak akan menjadi sesuatu yang illegal. Dengan syarat memperhatikan semua aspek tersebut.














(Sesi Tanya Jawab)

Pertanyaan :
1. Jadi kesimpulannya kegiatan illegal recording itu diperbolehkan atau tidak ? 
2. Adakah hukum tertulis yang menjelaskan tentang hukuman untuk seorang PR yang melakukan illegal recording? 

Jawab :
1. Kegiatan recording boleh dilakukan asalkan  pihak-pihak terkait sudah mengetahui dan menyepakatinya (legal recording), tetapi jika pihak-pihak terkait tidak mengetahui dan menyepakati tentang kegiatan recording itu lalu kegiatan recording tetap dilakukan berarti itu termasuk illegal recording.

2. Untuk seorang PR sendiri tidak ada hukuman yang tertulis menunjukan bahwa seorang PR tidak diperbolehkan melakukan illegal recording. Tetapi ada hukuman utk masyarakat (umum) yang melakukan illegal recording yang tertera dalam uu no.11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.


Contoh ; Peran Humas dalam Komplain Konsumen kepada Perusahaan


Komplain Konsumen Kepada Perusahaan

Konsumen melayangkan gugatan ke Nissan Motor Indonesia di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen. Hal ini dilakukan karena Nissan dinilai melakukan kebohongan soal keiritan bahan bakar mobil Nissan March melalui iklan.
Awalnya, Ludmilla Anet (konsumen) mengeluhkan Nissan terkait konsumsi BBM Nissan March di sejumlah media, disitu Nissan mengklaim jika bahan bakar Nissan hanya butuh 1 liter untuk 18 km perjalanan. Tapi ternyata setiap 1 liter hanya mampu menempuh 8 km.
Karena merasa tidak ada penyelesaian, akhirnya kasus ini dibawa ke YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) dan diselesaikan ke BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen). Kasus itu kemudian diproses, Ludmilla menuntut Nissan untuk membeli kembali mobil miliknya, namun Nissan hanya mau membelinya dengan standar harga Nissan bekas (sekitar 138 juta) tapi Ludmilla mau dibayar sesuai uang yang telah dikeluarkan untuk membeli mobil itu.
Akhirnya setelah dimediasi BPSK, jalan tengah pun diambil. Nissan membeli mobil Ludmilla kembali dengan harga 150 juta.



Peran Public Relations:
Pada kasus ini, PR tidak sepenuhnya salah. Karena didalam kasus ini terlibat pula unsur marketing yang ikut campur dalam hal mempublikasikan jarak mobil Nissan yang seharusnya dapat menempuh jarak 18 km dengan 1 liter BBM. Tetapi pada kenyataannya hanya dapat menempuh 8 km dengan 1 liter BBM.
PR meminta bagian teknisi untuk mengecek keadaan mesin mobil tersebut untuk menunjukkan kepada pihak konsumen bahwa tuduhan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ternyata setelah dicek oleh teknisi mesin tidak ada masalah pada mesin kendaraan tersebut.
Karena tidak ada penyelesaian, kasus ini akhirnya dibawa ke YLKI dan diselesaikan ke BPSK. Konsumen tersebut menuntut Nissan untuk membeli kembali mobil miliknya dan Nissan pada akhirnya stuju untuk membeli degan harga bekas yakni Rp 138 juta. Tapi konsumen ingin dibayar sesuai harga beli mobil. Setelah mediasi dengan BPSK, jalan tengah pun diambil. Nissan membeli kembali dengan harga Rp 150 juta.

Contoh ; Komunikasi Antar Manusia


Komunikasi Antar Manusia

Komunikasi antar manusia adalah subyek yang luas dan salah satu hal yang mungkin baru bagi Anda. Dalam bab ini membahas banyak manfaat terhadap studi bentuk komunikasi manusia, unsur-unsur yang terlibat dalam proses komunikasi, beberapa prinsip-prinsip yang mengatur cara komunikasi beroperasi, dan sifat efektif komunikator yang kompeten.
1.      Bentuk, Manfaat, dan Mitos Komunikasi Antar Manusia

1.1  Bentuk Komunikasi Antar Manusia
a.       Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang Anda miliki dengan diri sendiri. Anda dapat mempelajari, membujuk, membuat sebuah keputusan bahkan menilai diri sendiri.
b.      Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang.
c.       Wawancara
Melalui wawancara Anda belajar tentang orang lain dan apa yang mereka ketahui; serta belajar memberi atau mendapat nasihat dari orang lain.
d.      Komunikasi Grup Kecil
Komunikasi kelompok kecil adalah komunikasi di antara anggota kelompok berjumlah sekitar 5-10 orang. Melalui komunikasi kelompok kecil Anda dapat berinteraksi dengan orang lain, memecahkan masalah, mengembangkan ide-ide baru, dan berbagi pengetahuan dan pengalaman.
e.       Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi di antara anggota organisasi. Contohnya konferensi, bekerja dalam tim, berbicara dengan supervisor, atau memberikan arahan kepada karyawan.
f.       Berbicara di depan Umum
Berbicara di depan umum adalah komunikasi antara pembicara dan penonton. Anda juga dapat menginformasikan dan membujuk orang lain-untuk bertindak, untuk membeli, atau berpikir dengan cara tertentu, begitupun sebaliknya.
g.      Komunikasi Perantaraan Komputer
Mencakup semua bentuk komunikasi antara terjadi melalui komputer, elektronik, atau koneksi Internet, misalnya, e-mail, SMS, blogging, instant messaging, tweeting, atau chatting.
h.      Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah komunikasi dari satu sumber ke banyak penerima, yang berlangsung melalui surat kabar, majalah, televisi, radio, film dan video.

1.2  Manfaat Komunikasi Antar Manusia
a.       Keterampilan untuk Berpikir Kritis dan Kreatif
Meningkatkan kemampuan Anda untuk membedakan antara suara dan argumen yang valid dan yang berisi kesalahan.
b.      Keterampilan dalam Berinteraksi
Meningkatkan komunikasi Anda dalam berbagai bentuk, dari yang tampaknya sederhana seperti bicara kecil sampai wawancara kerja untuk pekerjaan seumur hidup.
c.       Keterampilan Hubungan
Memungkinkan Anda untuk membangun persahabatan, terlibat hubungan cinta, bekerja dengan kolega, dan berinteraksi dengan anggota keluarga. Ini adalah keterampilan interpersonal untuk memulai, mempertahankan, dan memperbaiki hubungan.
d.      Keterampilan Kepemimpinan
Memungkinkan Anda untuk mengkomunikasikan informasi secara efektif dan kemampuan Anda untuk mempengaruhi orang lain dalam beberapa situasi.
e.       Keterampilan Presentasi
Kemampuan untuk menyajikan diri Anda dalam aura yang positif, melalui pesan verbal dan nonverbal Anda.
f.       Keterampilan Literasi Media
Keterampilan ini membantu Anda memahami bagaimana media beroperasi, bagaimana Anda bisa berinteraksi secara lebih efektif dengan media, dan dapat menjadi pencipta media yang lebih efektif.

1.3  Mitos Komunikasi Antar Manusia
Keyakinan tentang komunikasi mempengaruhi cara Anda berkomunikasi.

2.      Elemen Komunikasi Antar Manusia
2.1 Komunikasi Konteks
a.       Konteks Fisik
Konteks ini menggunakan beberapa pengaruh pada apa yang Anda katakan dan bagaimana Anda mengatakannya.
b.      Konteks Sosial Psikologis
Meliputi status hubungan, peran yang orang lakukan dan aturan budaya masyarakat dimana orang berkomunikasi. Termasuk sifat ramah dan tidak ramah, formal dan tidak formal, serta situasi serius dan bercanda.
c.       Konteks Temporal
Meliputi waktu hari (misalnya, untuk beberapa pagi hari bukanlah waktu untuk komunikasi; untuk yang lain, itu ideal), waktu dalam sejarah di mana komunikasi terjadi (misalnya, pesan pada sikap rasis, seksual, atau agama tidak bisa sepenuhnya dipahami di luar waktu mereka dalam sejarah), dan bagaimana pesan masuk kedalam urutan aktivitas komunikasi.
d.      Konteks Budaya
Keyakinan, nilai-nilai, dan cara berperilaku yang dibagi oleh sekelompok orang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Faktor budaya mempengaruhi setiap interaksi dan pengaruh apa yang Anda katakan, bagaimana mengatakannya, dan bagaimana Anda menanggapi apa yang orang lain katakan.

            2.2 Sumber—Penerima
Setiap orang yang terlibat dalam komunikasi berperan sebagai sumber (atau pembicara) dan penerima (atau pendengar).       

            2.3 Pesan
a)      Meta-pesan
Pesan yang mengacu kepada pesan yang lain.
b)      Pesan Umpan Balik
Pendengar memberikan umpan balik kepada pembicara, begitupun sebaliknya.
c)      Pesan Feed-forward
Feedforward adalah informasi yang Anda berikan sebelum mengirimkan pesan utama yang mengungkapkan sesuatu tentang pesan yang akan datang.

            2.4 Saluran
            Saluran komunikasi yang berfungsi sebagai medium untuk pesan lewat.

            2.5 Gangguan
                  a) Gangguan Fisik
            Gangguan yang berasal dari luar. Misalnya suara mobil lewat yang melengking.
                  b) Gangguan Fisiologis
Hambatan dalam pengirim atau penerima. Misalnya gangguan pendengaran.
                  c) Gangguan Psikologis
Gangguan mental dalam pembicara atau pendengar seperti pikiran tertutup atau emosionalisme yang ekstrim.
d)     Gangguan Semantik
Pembicara dan pendengar memiliki memiliki sistem makna berbeda. Seperti menggunakan istilah rumit dan ambigu yang dapat disalahartikan.

            2.6 Dampak
                  a) Kognitif (efek perubahan dalam pemikiran Anda)      
                  b) Afektif (perubahan dalam sikap, nilai-nilai, keyakinan, dan emosi Anda)
                  c) Psikomotor (perubahan perilaku)               

3.      Prinsip Komunikasi Antar Manusia
Berkomunikasi untuk suatu tujuan. Komunikasi adalah proses yang tidak bisa dihindari dan tidak dapat diulangi. Komunikasi juga transaksional, yang berarti bahwa unsur-unsur dalam komunikasi selalu berubah, saling mempengaruhi yang lain, makna dan dampak tergantung tiap individu, dan setiap orang dalam komunikasi bertindak sebagai pembicara dan pendengar. Perilaku komunikasi juga melibatkan pesan lisan, gerak tubuh atau kombinasi keduanya. Terkadang, komunikasi itu ambigu. Ini terjadi karena kita menggunakan kata-kata yang dapat diartikan berbeda oleh orang lain.

4.      Komunikator yang Kompeten
Salah satu ciri komunikator yang kompeten adalah dapat membuat pilihan yang beralasan dengan berpikir secara kritis dan penuh kesadaran. Karena setiap situasi komunikasi berbeda dari setiap komunikasi lainnya, maka komunikator ini bisa secara efektif mengevaluasi pilihan yang tersedia berdasarkan pada pengetahuan tentang penelitian dan teori dalam komunikasi manusia dan dapat membuat yang prediksi untuk pilihan apa yang akan bekerja dan pilihan apa yang tidak. Seorang komunikator yang kompeten juga sensitif terhadap budaya, karena prinsip komunikasi bervariasi dari satu budaya ke budaya yang lain. Komunikasi antar manusia juga melibatkan etika, studi tentang baik dan buruk, benar dan salah, moral dan tidak bermoral. Ia juga harus mempunyai keterampilan untuk berurusan dengan media, baik media massa maupun media sosial. Hal ini dapat membantu Anda menggunakan media yang lebih cerdas untuk memahami, menganalisis dan mengevaluasi pesan media secara lebih efektif.

Contoh ; Public Affairs Perusahaan Burson-Marsteller


Burson-Marsteller

Perusahaan Burson-Marsteller ini didirikan oleh Harold Burson dan William Marsteller pada tahun 1953, dan pada awal 1980-an, telah menjadi salah satu perusahaan public relations terbesar di dunia. Perusahaan ini berpusat di New York City. Direktur utama Burson-Marsteller saat ini adalah Don Baer.
Perusahaan ini menyediakan kliennya dengan pemikiran strategis dan pelaksanaan program di berbagai  bidang public relations, urusan publik, reputasi dan manajemen krisis, serta iklan dan strategi digital. Perusahaan ini juga memiliki jaringan di seluruh dunia, terdiri dari 72 kantor dan 85 kantor afiliasi, yang bersama-sama beroperasi di 110 negara di enam benua.
Spesialisasi Burson-Marsteller di bidang consumer and brand marketing (konsumen dan pemasaran merek) adalah komunikasi pemasaran global di media relations, membuat strategi, pembuatan konten, media sosial dan banyak lagi. Dengan mengambil pendekatan berbasis bukti, Burson-Marsteller berhasil menggunakan penelitian dan konsumen dan industri wawasan untuk mengembangkan informasi Business-to-Consumer dan program Business-to-Business.
Selain itu, penerimaan media dan advokasi adalah sebagai dasar dari praktik kesehatan dalam bidang Healthcare Communications and Market Access. Sedangkan strategi perusahaan untuk membantu klien dalam bidang digital salah satunya dengan cara kampanye yang dilakukan secara digital untuk mendorong pengguna media sosial agar menandatangani petisi di microsite yang melarang penggunaan euthanasia untuk mengontrol kucing dan anjing penduduk.
Dalam bidang reputasi dan manajemen krisis, tim manajemen masalah Burson-Marsteller berfokus pada kebijakan publik dan menerapkan pengetahuan dari dunia politik untuk membantu klien. Dalam public affairs, Burson-Marsteller bertindak sebagai penasihat terpercaya yang transparan untuk klien, yang membantu mereka membangun reputasi untuk mengatasi peluang dan ancaman di pasar di seluruh dunia dan pemerintah. 

Contoh ; Manajemen Isu (Pendekatan dan Siklus)

A.    Pendekatan Manajemen Isu
Ketika organisasi dihadapkan pada sebuah isu yang berpotensi menjadi krisis, idealnya mereka akan segera melakukan tindakan manajemen untuk mengelola isu dan mengendalikan isu agar tidak semakin liar. Model proses manajemen yang digunakan setiap organisasi sendiri bervariasi tergantung pendekatan yang digunakan.
Ada beberapa pendekatan dominan yang biasa digunakan untuk menganalisa model-model proses manajemen sebagaimana ditulis Prayudi (2007). Tiga (3) pendekatan utama yang biasa digunakan dalam menganalisa manajemen isu, diantaranya adalah pendekatan sistem (system approach), pendekatan stratejik reduksi ketidakpastian (strategic reduction of uncertainty approach) dan pendekatan retoris (rethorical approach). Selanjutnya Taylor, Vasquez dan Doorley menambahkan pendekatan terbaru yang merupakan pendekatan terintegrasi (engagement approach) yang mengatasi isolasi, mendorong komunikasi dan menstimulasi reformasi.

1.      Pendekatan Sistem (System approach)
Pendekatan sistem didasarkan pada teori sistem dan prinsip manajemen bisnis. Sebagaimana dikatakan oleh William G. Scott (1961) bahwa “cara yang paling bermakna mempelajari organisasi…adalah sebagai sebuah sistem”. Semua bagian saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain. Walaupun ada teori lain yang menjelaskan bagaimana bagian-bagian ini saling berhubungan, proses hubungan yang utama adalah komunikasi (dalam Pace dan Faules, 1994).
Terdapat  dua tujuan manajemen berdasarkan pendekatan ini. Pertama, manajemen isu berupaya meminimalisir “kejutan” dari lingkungan dengan bertindak sebagai sistem  eringatan dini bagi ancaman potensial dan peluang. Kedua, pendekatan ini mempromosikan respon yang lebih sistematis dan efektif dengan bertindak sebagai kekuatan koordinasi dan integrasi di dalam organisasi. Di sini manajemen isu bertindak sebagai pemberi nasehat, pendidikan, informasi, penyelesaian masalah dan respon terhadap media.


2.      Pendekatan Stratejik (Strategic reduction of uncertainty approach)
Pendekatan ini berasal dari kajian pembuatan keputusan stratejik, proses organisasi, perilaku manajemen dan prilaku sosio-politik untuk mengembangkan pemahaman peristiwa lingkungan dan aksi organisasi.Secara implisit pendekatan stratejik menekankan pada orientasi kognitif aksi organisasi dan perilaku keputusan individu. Perhatian utama adalah bagaimana interpretasi individu dan kelompok terhadap sebuah isu berhubungan dengan aksi di tingkat organisasi. Penelitian Dutton menekankan seperangkat konsep yang memberikan cara bagaimana isu diidentifikasi, dieksplorasi dan akhirnya mengarah pada pembuatan keputusan organisasi. Inti dari konsep ini adalah diagnosis isu stratejik (strategic issues diagnosis – SID) (Journal of Management Studies, 1993:339).

3.      Pendekatan retoris (Rethorical approach)
Pendekatan ini muncul sebagai respon terhadap model manajemen isu Chase, Jones dan Crane dan dikembangkan oleh ilmuwan retoris yang tertarik pada wacana korporat dan public relations. Crable dan Vibbert (1986) mengidentifikasi tiga masalah dalam pendekatan Chase, Jones dan Crane. Pertama, pendekatan model proses manajemen isu beranggapan organisasi memiliki wewenang yang sama dengan pemerintah ketika berhubungan dengan penciptaan kebijakan publik. Menurut Crable dan Vibert organisasi tidak memiliki wewenang dalam kebijakan publik, namun bisa mempengaruhi kebijakan publik. Kedua, Chase, Jones dan Crane memandang isu sebagai sebuah masalah yang belum terselesaikan dan siap untuk sebuah keputusan. Crable dan Vibert (1986) mendefinisikan isu sebagai sebuah pertanyaan dan menyatakan bahwa isu “diciptakan jika satu atau lebih manusia berhubungan secara signifikan dengan situasi atau masalah.” Ketiga, Chase dan Jones merekomendasikan tiga strategi respon terhadap isu, yakni :
·         reaktif : menentang perubahan dan bereaksi terhadap inisiatif kelompok kepentingan demikian pula dengan pejabat yang dipilih dan diangkat
·         adaptif : untuk mengantisipasi perubahan dan menawarkan akomodasi sebelum perubahan perubahan yang tidak dapat diterima disahkan
·         dinamis : untuk mengantisipasi dan berusaha membentuk arah perubahan dengan mengembangkan solusi nyata untuk masalah yang sesungguhnya dengan hasil yang sesungguhnya
Ketiga kategori tanggapan ini menciptakan spektrum yang luas dari strategi potensial. Model ini – berbarengan dengan model selanjutnya – sangat direkomendasikan dalam mengelola isu.      
Namun kemudian , Crable dan Vibbert (1985 ) berpendapat bahwa pendekatan dinamis bersifat defensif yang selanjutnya mendukung pada Kategori keempat : katalitik dimana organisasi berupaya “membawa isu melalui siklusnya sehingga dapat diselesaikan sesuai dengan tujuan organisasi.” Dengan demikian, manajemen isu bisa menjadi aktivitas organisasi proaktif untuk mempengaruhi dan memformulasi kebijakan publik.
Berikut adalah tahapan dalam strategi”Catalytic”:
·         Penilaian situasi(situation assessment).
Tim manajemen isu mencermati lingkungan internal (organizational assessment) dan eksternal (environmental assessment) untuk mengetahui apa yang diharapkan organisasi dan bukan sebaliknya. Penilaian organisasi meliputi motif profit/keberlanjutan, tujuan/keinginan, sumber daya, input. Sedangkan penilaian lingkungan meliputi kondisi, berbagai kemungkinan, dan hambatan
·         Penentuan tujuan (goal establishment)
Pada tahap ini, organisasi perlu mendefinisikan sifat perubahan yang diinginka. Kemudian tim manajemen isu perlu mempertimbangkan konsekuensi perubahan pada organisasi. Jika organisasi berhasil melakukan perubahan sesuai dengan yang diharapkan dan tujuan yang ditetapkan, isu menjadi bagian dari agenda public, yang berarti isu akan menjadi persoalan jawaban alternatif dari pertanyaanfamiliar.Pada tahapan inilah Crable dan Vibert berbicara mengenai manajemen kebijakan dan bukanya manajemen isu.Isu,yang dimunculkan oleh organisasi, menjadi subyek diskusi bagi semua yang bisa mempengaruhi kebijakan public. Ini yang disebut Crable dan Vibert dengan pendekatan ”saringan” terhadap manajemen isu dan pengaruh kebujakan (Monstad,2003:35)

4.      Pendekatan terintegrasi (Engagement approach)
Pendekatan terintegrasi diperkenalkan oleh Taylor, Vasquez dan Doorley pada September 2003. Pendekatan terintegrasi terhadap manajemen isu menjelaskan bahwa dialog aktif atau keterlibatan antara organisasi dan publiknya merupakan cara yang paling efektif dalam mengelola isu. Teringerasi (engagement) berarti bahwa stakeholder relevan dipertimbangkan, dan dilibatkan dalam keputusankeputusan organisasi. Menurut Taylor, Vasquez dan Doorley, konsep terintegrasi secara implisit banyak berasal dari kajian public relations. Terintegrasi (engagement) merupakan sebuah istilah menyeluruh bagi manajemen isu masa depan karena pendekatan ini menyatukan dan memperluas pendekatan sistem, stratejik dan retoris. Lebih lanjut, pendekatan ini merupakan sebuah metafora bagi teoritis dan praktisi seiring dengan mereka menjelaskan hubungan-hubungan dalam manajemen isu.
Ada tiga asumsi penting yang berkaitan dengan pendekatan terintegrasi. Pertama, semua organisasi berusaha memaksimalkan hasil atau outcome mereka. Manajemen isu membantu organisasi tumbuh dan bertahan hidup karena memberikan organisasi alat untuk memaksimalkan peluang.  Bagaimana pun kepentingan organisasi tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Oleh karena itu, pendekatan integrasi mengedepankan pemahaman, bahwa kepentingan organisasi dikontekstualisasikan oleh hubungan dengan beragam publiknya. Kedua, pendekatan integrasi yang menjelaskan kepentingan publik merupakan konsekuensi yang muncul dikarenakan asumsi pertama. Dalam pendekatan ini, publik dilihat sebagai sumber daya dengan mana organisasi bergantung.   Terakhir fokus pada konvergensi antar kepentingan-kepentingan ini.

B.     Siklus Krisis

1. Tahap pertama – Periode Krisis Prodromal

Suatu krisis besar biasanya bermula dari krisis kecil sebagai pertanda atau gejala awal yang akan menjadi suatu krisis sebenarnya yang bakal muncul di masa yang akan datang. Tahap ini disebut warning stage karena ia memberi tanda bahaya mengenai simtom-simtom yang harus segera diatasi.
Mengacu pada definisi krisis, tahap ini juga merupakan bagian dari ‘titik balik’ (turning point). Manajemen yang gagal menangkap sinyal akan membuat krisis memasuki tahap yang lebih serius, yakni krisis akut. Oleh karen itu, tahap ini disebut juga sebagai tahap prakrisis (precrisis). Tahap prodromal biasanya muncul dalam salah satu dari tiga bentuk ini:
a) Jelas sekali. Gejala-gejala awal terlihat jelas. Misalnya ketika karyawan datang ke manajemen untuk meminta kenaikan gaji, perbedaan pendapat di antara direksi, kerusakan alat di pabrik (internal); selebaran gelap di masyarakat (eksternal).
b) Samar-samar. Gejala yang muncul tampak samar-samar karena sulit menginterpretasikan dan menduga luasnya suatu kejadian. Misalnya deregulasi, munculnya pesaing baru, ucapan pembentuk opini kadang-kadang tidak langsung terasa dampaknya pada perusahaan, namun dapat menjadi masalah besar di kemudian hari.
c) Sama sekali tidak terlihat. Gejala-gejala krisis bisa tak terlihat sama sekali. Misalnya kerugian yang dialami salah satu produk atau salah satu lini yang dirasakan wajar oleh sebuah perusahaan. Namun yang terpikirkan oleh perusahaan tersebut adalah seberapa jauh kerugian itu dapat menjadi kanibal seperti kasus Bank Summa yang menelan saham keluarga Suryadjaya pada PT. Astra Internasional.
Meskipun krisis pada tahap ini sangat ringan, pemecahan dini secara tuntas sangat penting karena masalahnya masih mudah ditangani dan belum menimbulkan komplikasi.


2. Tahap kedua – Periode Krisis Akut

Bila prakrisis tidak terdeteksi dan tidak segera diambil tindakan yang tepat, maka akan timbul masalah yang lebih fatal. Di tahap ini orang mengatakan “telah terjadi krisis”. Meski bukan di sini awal mulanya krisis, orang menganggap suatu krisis dimulai di sini karena gejala yang samar-samar atau sama sekali tidak jelas tadi mulai terlihat jelas.
Tahap ini sering disebut the point of no return. Artinya, jika sinyal-sinyal yang muncul pada tahap prodromal tidak digubris, maka ia akan masuk ke tahap akut dan tidak bisa kembali lagi. Kerusakan sudah mulai bermunculan, reaksi mulai berdatangan, issue menyebar luas.
Salah satu kesulitan besar dalam menghadapi krisis pada tahap akut adalah intensitas dan kecepatan serangan yang akan datang dari berbagai pihak yang menyertai tahap ini. Kecepatan ditentukan oleh jenis krisis yang menimpa perusahaan, sedangkan intensitas ditentukan oleh kompleksnya permasalahan.
Tahap akut adalah tahap antara, yang paling pendek waktunya dibanding dengan tahap-tahap lainnya, tetapi merupakan masa yang cukup menegangkan dan paling melelahkan bagi tim yang menangani masalah krisis tersebut. Bila ia lewat, maka umumnya akan segera memasuki tahap kronis.

3. Tahap ketiga – Periode Krisis Kronis

Berakhirnya tahap akut dinyatakan dengan langkah-langkah pembersihan sehingga tahap ini juga sering disebut sebagai fase pembersihan. Peristiwa pun sudah diberitakan dengan jelas di media massa.
Tahap ini juga merupakan masa pemulihan citra dan upaya meraih kembali kepercayaan dari masyarakat, di samping juga merupakan masa untuk mengadakan “introspeksi” ke dalam dan keluar mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi (recovery & self analysis).
Masa ini berlangsung cukup panjang, tergantung pada jenis dan bentuk krisisnya. Namun diharapkan seorang crisis manager dapat memperpendek tahap ini karena semua orang yang terlibat sudah letih dan pers mulai bosan memberitakan kasus tersebut.
Masa ini juga sangat menentukan berhasil atau tidaknya perusahaan melewati masa krisis: keguncangan manajemen dan kebangkrutan perusahaan atau kepulihan manajemen dan perusahaan seperti sedia kala. Contohnya adalah Bank Duta. Begitu selesai mengatasi masa krisis, perbaikan struktur manajemen atau organisasi, rekapitalisasi dan operasinya, bank tersebut tumbuh dan berhasil pulih kembali dalam khazanah dunia perbankan.

4. Tahap keempat – Periode Resolusi Krisis

Merupakan tahap penyembuhan (pulih kembali). Perusahaan yang terkena krisis dapat bangkit kembali setelah melalui proses dan pemulihan sistem produksi, pelayanan jasa, strukturalisasi manajemen, rekapitalisasi dan operasinya. Setelah itu baru memikirkan pemulihan citra tahap berikutnya untuk mengangkat nama perusahaan di mata khalayaknya dan masyarakat luas.
Meski bencana besar telah berlalu, manajemen tetap perlu berhati-hati karena terdapat kemungkinan krisis kembali ke keadaan semula (tahap prodromal). Khususnya departemen humas, harus lebih siap dengan “strategi manajemen krisis” untuk mengantisipasi hal serupa di kemudian hari, baik untuk krisis yang sama maupun untuk krisis yang lain.

Contoh ; 6 Value yang Harus dimiliki oleh Seorang Humas


6 Value yang Harus dimiliki oleh Seorang Humas


·         Trustworthy
Yang dimaksud dengan trustworthy adalah ketika seseorang dipercaya oleh individu lainnya. Sebagai seorang public relations yang baik, kinerja dan kejujuran menjadi hal utama yang dapat menciptakan trustworthy. Kinerja yang baik akan membuat individu lain mempercayai kita dalam mengerjakan sesuatu sehingga mereka tidak enggan untuk memberikan tugas kepada kita.
·         Responsibility
Tanggung jawab merupakan hal yang harus kita dilakukan sebagai manusia semasa hidup kita. Tanggung jawab adalah hasil dari keinginan. Sebagai seorang public relations yang baik, sudah sepatutnya bertanggung jawab atas apa yang ia putuskan dan yang ia perbuat.
·         Respect
Respect memiliki banyak arti yaitu, menghargai, menghormati, dan saling toleransi terhadap sesama.  Dalam dunia public relations, dengan sikap respect, komunikasi kita terhadap orang lain akan menjadi lebih baik, kita dapat merasakan rasa kekeluargaan yang sangat kuat karena kita saling mengakrabkan diri satu sama lain entah itu dengan cara kita menghormati oranglain, saling perhatian dengan teman ataupun keluarga.
·         Integritas
Integritas adalah nilai diri. Sebagai seorang public relations, sudah seharusnya bersikap professional dalam segala situasi dan kondisi.
·         Caring
Caring adalah melakukan hal-hal sederhana tapi dapat menyenangkan hati orang lain. Contohnya dalam dunia public relations, seorang public relations harus mempunyai sikap yang ramah tidak hanya kepada klien, atasan maupun rekan kerja.
·         Loyal
Berperan untuk membuat lingkungan yang lebih baik melalui pengabdian. Sebagai contoh, public relations memberikan beasiswa kepada anak-anak bukan semata-mata bekerja ingin mendapat penghasilan, tapi memang benar-benar dari dalam hati.

4/24/17

poster ff

3/19/17

Contoh ; Studi Kasus MPRSA - Illegal Recording

HASIL DISKUSI KASUS

I. ILLEGAL RECORDING
1. Identify the ethical issue and/or conflicts.
Jawab : 
perizinan untuk melakukan illegal recording yang berbeda setiap negara.

2. Determine internal/external factors likely to influence your decision.
Jawab :
- ketakukan akan adanya kesalah pahaman sehingga akan menyebabkan tercemarnya nama baik dari perusahaan tersebut sehingga tidak ada perkembangandari masalah tersebut. (internal)
- adanya sanksi dari kebijakan pemerintah setempat dan menurunnya kepercayaan dari masyarakat terhadap pelayanan kita (eksternal)

3. Choose key values that apply .
Jawab : 
- kejujuran : dalam memeberikan informasi harus sesuai dengan kenyataan dan situasi yang ada.
- ahli : dalam memutuskan suatu keputusan akan lebih baik jika dipengaruhi oleh pengalamanbpengalaman yang telah ada, pengetahuan dan hasil riset .
- keadilan : keputusan yang diambil tidak akan merugikan pihak-pihak yang terkait.

4. Consider parties  who will be affected by your decision and evaluate the public relations professional's obligation to each one .
Jawab :
- leader of environmental
- CEO

5. Select ethical principles to guide your decision-making.
Jawab :
Dalam membuat keptusan prinsip tanggung jawab, keadilan, kejujuran, otonomi harus di terapkan dalam membuat suatu keputusan.
Kejujuran : dengan mengambilanbkeputusan untuk  mengambil rekaman dengan prosedur yang salah, kita telah melanggar prinsip ini.
Tanggung Jawab : dengan memutuskan akan adanya rekaman tersebut atau tidak, seorang pr harus mempersiapkan diri akan setiap resiko yang akan mungkin terjadi.
Keadilan : bila merekam percakapan tersebut tanpa adanya izin atau sepengetahuan pihak pihak akan memberikanbkeuntungan  untuk client kita saja. Tetapi bila melakukan rekaman dengan izin atau sepengetahuan beberapa pihak, tidak akan merugikan pihak pihak lain.

6. Make your decision and offer a brief rational
Jawab :
Keputusan yang telah diambil setelah melalui langkah langkah diatas adalah dengan mengambil rekaman saat pertemuan tersebut. Dilain sisi kami akan melakukan langkah lanhkah berikut yaitu :
* mengkonsultasikan kepada pengacara tesebut mengenai hal hal berikut :
  - apakah negara ini memperbolehkan merekam dengan sepengetahuan satu pihak atau semua  pihak
 - kekuatan hukum yang melekat pada rekaman tersebut
* menginformasikan kepada seluruh partisipan bahwa akan dilakukannya perekaman terhadapat perbincangan selama pertemuan tersebut
* meminta izin kepada seluruh partisipan perihal tindakan yang akan dilakukan
* memulai rekaman setelah adanya persetujuan dari semua pihak.
* kita sebagai PR harus berada dalam pertemuan tersebut dalam rekaman tersebut

Oleh karena itu, kami menggangap bahwa diperbolehkan untuk melakukan rekaman apabila telah adanya persetujuan sehingga tidak akan menjadi sesuatu yang illegal. Dengan syarat memperhatikan semua aspek tersebut.














(Sesi Tanya Jawab)

Pertanyaan :
1. Jadi kesimpulannya kegiatan illegal recording itu diperbolehkan atau tidak ? 
2. Adakah hukum tertulis yang menjelaskan tentang hukuman untuk seorang PR yang melakukan illegal recording? 

Jawab :
1. Kegiatan recording boleh dilakukan asalkan  pihak-pihak terkait sudah mengetahui dan menyepakatinya (legal recording), tetapi jika pihak-pihak terkait tidak mengetahui dan menyepakati tentang kegiatan recording itu lalu kegiatan recording tetap dilakukan berarti itu termasuk illegal recording.

2. Untuk seorang PR sendiri tidak ada hukuman yang tertulis menunjukan bahwa seorang PR tidak diperbolehkan melakukan illegal recording. Tetapi ada hukuman utk masyarakat (umum) yang melakukan illegal recording yang tertera dalam uu no.11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.


Contoh ; Peran Humas dalam Komplain Konsumen kepada Perusahaan


Komplain Konsumen Kepada Perusahaan

Konsumen melayangkan gugatan ke Nissan Motor Indonesia di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen. Hal ini dilakukan karena Nissan dinilai melakukan kebohongan soal keiritan bahan bakar mobil Nissan March melalui iklan.
Awalnya, Ludmilla Anet (konsumen) mengeluhkan Nissan terkait konsumsi BBM Nissan March di sejumlah media, disitu Nissan mengklaim jika bahan bakar Nissan hanya butuh 1 liter untuk 18 km perjalanan. Tapi ternyata setiap 1 liter hanya mampu menempuh 8 km.
Karena merasa tidak ada penyelesaian, akhirnya kasus ini dibawa ke YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) dan diselesaikan ke BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen). Kasus itu kemudian diproses, Ludmilla menuntut Nissan untuk membeli kembali mobil miliknya, namun Nissan hanya mau membelinya dengan standar harga Nissan bekas (sekitar 138 juta) tapi Ludmilla mau dibayar sesuai uang yang telah dikeluarkan untuk membeli mobil itu.
Akhirnya setelah dimediasi BPSK, jalan tengah pun diambil. Nissan membeli mobil Ludmilla kembali dengan harga 150 juta.



Peran Public Relations:
Pada kasus ini, PR tidak sepenuhnya salah. Karena didalam kasus ini terlibat pula unsur marketing yang ikut campur dalam hal mempublikasikan jarak mobil Nissan yang seharusnya dapat menempuh jarak 18 km dengan 1 liter BBM. Tetapi pada kenyataannya hanya dapat menempuh 8 km dengan 1 liter BBM.
PR meminta bagian teknisi untuk mengecek keadaan mesin mobil tersebut untuk menunjukkan kepada pihak konsumen bahwa tuduhan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ternyata setelah dicek oleh teknisi mesin tidak ada masalah pada mesin kendaraan tersebut.
Karena tidak ada penyelesaian, kasus ini akhirnya dibawa ke YLKI dan diselesaikan ke BPSK. Konsumen tersebut menuntut Nissan untuk membeli kembali mobil miliknya dan Nissan pada akhirnya stuju untuk membeli degan harga bekas yakni Rp 138 juta. Tapi konsumen ingin dibayar sesuai harga beli mobil. Setelah mediasi dengan BPSK, jalan tengah pun diambil. Nissan membeli kembali dengan harga Rp 150 juta.

Contoh ; Komunikasi Antar Manusia


Komunikasi Antar Manusia

Komunikasi antar manusia adalah subyek yang luas dan salah satu hal yang mungkin baru bagi Anda. Dalam bab ini membahas banyak manfaat terhadap studi bentuk komunikasi manusia, unsur-unsur yang terlibat dalam proses komunikasi, beberapa prinsip-prinsip yang mengatur cara komunikasi beroperasi, dan sifat efektif komunikator yang kompeten.
1.      Bentuk, Manfaat, dan Mitos Komunikasi Antar Manusia

1.1  Bentuk Komunikasi Antar Manusia
a.       Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang Anda miliki dengan diri sendiri. Anda dapat mempelajari, membujuk, membuat sebuah keputusan bahkan menilai diri sendiri.
b.      Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang.
c.       Wawancara
Melalui wawancara Anda belajar tentang orang lain dan apa yang mereka ketahui; serta belajar memberi atau mendapat nasihat dari orang lain.
d.      Komunikasi Grup Kecil
Komunikasi kelompok kecil adalah komunikasi di antara anggota kelompok berjumlah sekitar 5-10 orang. Melalui komunikasi kelompok kecil Anda dapat berinteraksi dengan orang lain, memecahkan masalah, mengembangkan ide-ide baru, dan berbagi pengetahuan dan pengalaman.
e.       Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi di antara anggota organisasi. Contohnya konferensi, bekerja dalam tim, berbicara dengan supervisor, atau memberikan arahan kepada karyawan.
f.       Berbicara di depan Umum
Berbicara di depan umum adalah komunikasi antara pembicara dan penonton. Anda juga dapat menginformasikan dan membujuk orang lain-untuk bertindak, untuk membeli, atau berpikir dengan cara tertentu, begitupun sebaliknya.
g.      Komunikasi Perantaraan Komputer
Mencakup semua bentuk komunikasi antara terjadi melalui komputer, elektronik, atau koneksi Internet, misalnya, e-mail, SMS, blogging, instant messaging, tweeting, atau chatting.
h.      Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah komunikasi dari satu sumber ke banyak penerima, yang berlangsung melalui surat kabar, majalah, televisi, radio, film dan video.

1.2  Manfaat Komunikasi Antar Manusia
a.       Keterampilan untuk Berpikir Kritis dan Kreatif
Meningkatkan kemampuan Anda untuk membedakan antara suara dan argumen yang valid dan yang berisi kesalahan.
b.      Keterampilan dalam Berinteraksi
Meningkatkan komunikasi Anda dalam berbagai bentuk, dari yang tampaknya sederhana seperti bicara kecil sampai wawancara kerja untuk pekerjaan seumur hidup.
c.       Keterampilan Hubungan
Memungkinkan Anda untuk membangun persahabatan, terlibat hubungan cinta, bekerja dengan kolega, dan berinteraksi dengan anggota keluarga. Ini adalah keterampilan interpersonal untuk memulai, mempertahankan, dan memperbaiki hubungan.
d.      Keterampilan Kepemimpinan
Memungkinkan Anda untuk mengkomunikasikan informasi secara efektif dan kemampuan Anda untuk mempengaruhi orang lain dalam beberapa situasi.
e.       Keterampilan Presentasi
Kemampuan untuk menyajikan diri Anda dalam aura yang positif, melalui pesan verbal dan nonverbal Anda.
f.       Keterampilan Literasi Media
Keterampilan ini membantu Anda memahami bagaimana media beroperasi, bagaimana Anda bisa berinteraksi secara lebih efektif dengan media, dan dapat menjadi pencipta media yang lebih efektif.

1.3  Mitos Komunikasi Antar Manusia
Keyakinan tentang komunikasi mempengaruhi cara Anda berkomunikasi.

2.      Elemen Komunikasi Antar Manusia
2.1 Komunikasi Konteks
a.       Konteks Fisik
Konteks ini menggunakan beberapa pengaruh pada apa yang Anda katakan dan bagaimana Anda mengatakannya.
b.      Konteks Sosial Psikologis
Meliputi status hubungan, peran yang orang lakukan dan aturan budaya masyarakat dimana orang berkomunikasi. Termasuk sifat ramah dan tidak ramah, formal dan tidak formal, serta situasi serius dan bercanda.
c.       Konteks Temporal
Meliputi waktu hari (misalnya, untuk beberapa pagi hari bukanlah waktu untuk komunikasi; untuk yang lain, itu ideal), waktu dalam sejarah di mana komunikasi terjadi (misalnya, pesan pada sikap rasis, seksual, atau agama tidak bisa sepenuhnya dipahami di luar waktu mereka dalam sejarah), dan bagaimana pesan masuk kedalam urutan aktivitas komunikasi.
d.      Konteks Budaya
Keyakinan, nilai-nilai, dan cara berperilaku yang dibagi oleh sekelompok orang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Faktor budaya mempengaruhi setiap interaksi dan pengaruh apa yang Anda katakan, bagaimana mengatakannya, dan bagaimana Anda menanggapi apa yang orang lain katakan.

            2.2 Sumber—Penerima
Setiap orang yang terlibat dalam komunikasi berperan sebagai sumber (atau pembicara) dan penerima (atau pendengar).       

            2.3 Pesan
a)      Meta-pesan
Pesan yang mengacu kepada pesan yang lain.
b)      Pesan Umpan Balik
Pendengar memberikan umpan balik kepada pembicara, begitupun sebaliknya.
c)      Pesan Feed-forward
Feedforward adalah informasi yang Anda berikan sebelum mengirimkan pesan utama yang mengungkapkan sesuatu tentang pesan yang akan datang.

            2.4 Saluran
            Saluran komunikasi yang berfungsi sebagai medium untuk pesan lewat.

            2.5 Gangguan
                  a) Gangguan Fisik
            Gangguan yang berasal dari luar. Misalnya suara mobil lewat yang melengking.
                  b) Gangguan Fisiologis
Hambatan dalam pengirim atau penerima. Misalnya gangguan pendengaran.
                  c) Gangguan Psikologis
Gangguan mental dalam pembicara atau pendengar seperti pikiran tertutup atau emosionalisme yang ekstrim.
d)     Gangguan Semantik
Pembicara dan pendengar memiliki memiliki sistem makna berbeda. Seperti menggunakan istilah rumit dan ambigu yang dapat disalahartikan.

            2.6 Dampak
                  a) Kognitif (efek perubahan dalam pemikiran Anda)      
                  b) Afektif (perubahan dalam sikap, nilai-nilai, keyakinan, dan emosi Anda)
                  c) Psikomotor (perubahan perilaku)               

3.      Prinsip Komunikasi Antar Manusia
Berkomunikasi untuk suatu tujuan. Komunikasi adalah proses yang tidak bisa dihindari dan tidak dapat diulangi. Komunikasi juga transaksional, yang berarti bahwa unsur-unsur dalam komunikasi selalu berubah, saling mempengaruhi yang lain, makna dan dampak tergantung tiap individu, dan setiap orang dalam komunikasi bertindak sebagai pembicara dan pendengar. Perilaku komunikasi juga melibatkan pesan lisan, gerak tubuh atau kombinasi keduanya. Terkadang, komunikasi itu ambigu. Ini terjadi karena kita menggunakan kata-kata yang dapat diartikan berbeda oleh orang lain.

4.      Komunikator yang Kompeten
Salah satu ciri komunikator yang kompeten adalah dapat membuat pilihan yang beralasan dengan berpikir secara kritis dan penuh kesadaran. Karena setiap situasi komunikasi berbeda dari setiap komunikasi lainnya, maka komunikator ini bisa secara efektif mengevaluasi pilihan yang tersedia berdasarkan pada pengetahuan tentang penelitian dan teori dalam komunikasi manusia dan dapat membuat yang prediksi untuk pilihan apa yang akan bekerja dan pilihan apa yang tidak. Seorang komunikator yang kompeten juga sensitif terhadap budaya, karena prinsip komunikasi bervariasi dari satu budaya ke budaya yang lain. Komunikasi antar manusia juga melibatkan etika, studi tentang baik dan buruk, benar dan salah, moral dan tidak bermoral. Ia juga harus mempunyai keterampilan untuk berurusan dengan media, baik media massa maupun media sosial. Hal ini dapat membantu Anda menggunakan media yang lebih cerdas untuk memahami, menganalisis dan mengevaluasi pesan media secara lebih efektif.

Contoh ; Public Affairs Perusahaan Burson-Marsteller


Burson-Marsteller

Perusahaan Burson-Marsteller ini didirikan oleh Harold Burson dan William Marsteller pada tahun 1953, dan pada awal 1980-an, telah menjadi salah satu perusahaan public relations terbesar di dunia. Perusahaan ini berpusat di New York City. Direktur utama Burson-Marsteller saat ini adalah Don Baer.
Perusahaan ini menyediakan kliennya dengan pemikiran strategis dan pelaksanaan program di berbagai  bidang public relations, urusan publik, reputasi dan manajemen krisis, serta iklan dan strategi digital. Perusahaan ini juga memiliki jaringan di seluruh dunia, terdiri dari 72 kantor dan 85 kantor afiliasi, yang bersama-sama beroperasi di 110 negara di enam benua.
Spesialisasi Burson-Marsteller di bidang consumer and brand marketing (konsumen dan pemasaran merek) adalah komunikasi pemasaran global di media relations, membuat strategi, pembuatan konten, media sosial dan banyak lagi. Dengan mengambil pendekatan berbasis bukti, Burson-Marsteller berhasil menggunakan penelitian dan konsumen dan industri wawasan untuk mengembangkan informasi Business-to-Consumer dan program Business-to-Business.
Selain itu, penerimaan media dan advokasi adalah sebagai dasar dari praktik kesehatan dalam bidang Healthcare Communications and Market Access. Sedangkan strategi perusahaan untuk membantu klien dalam bidang digital salah satunya dengan cara kampanye yang dilakukan secara digital untuk mendorong pengguna media sosial agar menandatangani petisi di microsite yang melarang penggunaan euthanasia untuk mengontrol kucing dan anjing penduduk.
Dalam bidang reputasi dan manajemen krisis, tim manajemen masalah Burson-Marsteller berfokus pada kebijakan publik dan menerapkan pengetahuan dari dunia politik untuk membantu klien. Dalam public affairs, Burson-Marsteller bertindak sebagai penasihat terpercaya yang transparan untuk klien, yang membantu mereka membangun reputasi untuk mengatasi peluang dan ancaman di pasar di seluruh dunia dan pemerintah. 

Contoh ; Manajemen Isu (Pendekatan dan Siklus)

A.    Pendekatan Manajemen Isu
Ketika organisasi dihadapkan pada sebuah isu yang berpotensi menjadi krisis, idealnya mereka akan segera melakukan tindakan manajemen untuk mengelola isu dan mengendalikan isu agar tidak semakin liar. Model proses manajemen yang digunakan setiap organisasi sendiri bervariasi tergantung pendekatan yang digunakan.
Ada beberapa pendekatan dominan yang biasa digunakan untuk menganalisa model-model proses manajemen sebagaimana ditulis Prayudi (2007). Tiga (3) pendekatan utama yang biasa digunakan dalam menganalisa manajemen isu, diantaranya adalah pendekatan sistem (system approach), pendekatan stratejik reduksi ketidakpastian (strategic reduction of uncertainty approach) dan pendekatan retoris (rethorical approach). Selanjutnya Taylor, Vasquez dan Doorley menambahkan pendekatan terbaru yang merupakan pendekatan terintegrasi (engagement approach) yang mengatasi isolasi, mendorong komunikasi dan menstimulasi reformasi.

1.      Pendekatan Sistem (System approach)
Pendekatan sistem didasarkan pada teori sistem dan prinsip manajemen bisnis. Sebagaimana dikatakan oleh William G. Scott (1961) bahwa “cara yang paling bermakna mempelajari organisasi…adalah sebagai sebuah sistem”. Semua bagian saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain. Walaupun ada teori lain yang menjelaskan bagaimana bagian-bagian ini saling berhubungan, proses hubungan yang utama adalah komunikasi (dalam Pace dan Faules, 1994).
Terdapat  dua tujuan manajemen berdasarkan pendekatan ini. Pertama, manajemen isu berupaya meminimalisir “kejutan” dari lingkungan dengan bertindak sebagai sistem  eringatan dini bagi ancaman potensial dan peluang. Kedua, pendekatan ini mempromosikan respon yang lebih sistematis dan efektif dengan bertindak sebagai kekuatan koordinasi dan integrasi di dalam organisasi. Di sini manajemen isu bertindak sebagai pemberi nasehat, pendidikan, informasi, penyelesaian masalah dan respon terhadap media.


2.      Pendekatan Stratejik (Strategic reduction of uncertainty approach)
Pendekatan ini berasal dari kajian pembuatan keputusan stratejik, proses organisasi, perilaku manajemen dan prilaku sosio-politik untuk mengembangkan pemahaman peristiwa lingkungan dan aksi organisasi.Secara implisit pendekatan stratejik menekankan pada orientasi kognitif aksi organisasi dan perilaku keputusan individu. Perhatian utama adalah bagaimana interpretasi individu dan kelompok terhadap sebuah isu berhubungan dengan aksi di tingkat organisasi. Penelitian Dutton menekankan seperangkat konsep yang memberikan cara bagaimana isu diidentifikasi, dieksplorasi dan akhirnya mengarah pada pembuatan keputusan organisasi. Inti dari konsep ini adalah diagnosis isu stratejik (strategic issues diagnosis – SID) (Journal of Management Studies, 1993:339).

3.      Pendekatan retoris (Rethorical approach)
Pendekatan ini muncul sebagai respon terhadap model manajemen isu Chase, Jones dan Crane dan dikembangkan oleh ilmuwan retoris yang tertarik pada wacana korporat dan public relations. Crable dan Vibbert (1986) mengidentifikasi tiga masalah dalam pendekatan Chase, Jones dan Crane. Pertama, pendekatan model proses manajemen isu beranggapan organisasi memiliki wewenang yang sama dengan pemerintah ketika berhubungan dengan penciptaan kebijakan publik. Menurut Crable dan Vibert organisasi tidak memiliki wewenang dalam kebijakan publik, namun bisa mempengaruhi kebijakan publik. Kedua, Chase, Jones dan Crane memandang isu sebagai sebuah masalah yang belum terselesaikan dan siap untuk sebuah keputusan. Crable dan Vibert (1986) mendefinisikan isu sebagai sebuah pertanyaan dan menyatakan bahwa isu “diciptakan jika satu atau lebih manusia berhubungan secara signifikan dengan situasi atau masalah.” Ketiga, Chase dan Jones merekomendasikan tiga strategi respon terhadap isu, yakni :
·         reaktif : menentang perubahan dan bereaksi terhadap inisiatif kelompok kepentingan demikian pula dengan pejabat yang dipilih dan diangkat
·         adaptif : untuk mengantisipasi perubahan dan menawarkan akomodasi sebelum perubahan perubahan yang tidak dapat diterima disahkan
·         dinamis : untuk mengantisipasi dan berusaha membentuk arah perubahan dengan mengembangkan solusi nyata untuk masalah yang sesungguhnya dengan hasil yang sesungguhnya
Ketiga kategori tanggapan ini menciptakan spektrum yang luas dari strategi potensial. Model ini – berbarengan dengan model selanjutnya – sangat direkomendasikan dalam mengelola isu.      
Namun kemudian , Crable dan Vibbert (1985 ) berpendapat bahwa pendekatan dinamis bersifat defensif yang selanjutnya mendukung pada Kategori keempat : katalitik dimana organisasi berupaya “membawa isu melalui siklusnya sehingga dapat diselesaikan sesuai dengan tujuan organisasi.” Dengan demikian, manajemen isu bisa menjadi aktivitas organisasi proaktif untuk mempengaruhi dan memformulasi kebijakan publik.
Berikut adalah tahapan dalam strategi”Catalytic”:
·         Penilaian situasi(situation assessment).
Tim manajemen isu mencermati lingkungan internal (organizational assessment) dan eksternal (environmental assessment) untuk mengetahui apa yang diharapkan organisasi dan bukan sebaliknya. Penilaian organisasi meliputi motif profit/keberlanjutan, tujuan/keinginan, sumber daya, input. Sedangkan penilaian lingkungan meliputi kondisi, berbagai kemungkinan, dan hambatan
·         Penentuan tujuan (goal establishment)
Pada tahap ini, organisasi perlu mendefinisikan sifat perubahan yang diinginka. Kemudian tim manajemen isu perlu mempertimbangkan konsekuensi perubahan pada organisasi. Jika organisasi berhasil melakukan perubahan sesuai dengan yang diharapkan dan tujuan yang ditetapkan, isu menjadi bagian dari agenda public, yang berarti isu akan menjadi persoalan jawaban alternatif dari pertanyaanfamiliar.Pada tahapan inilah Crable dan Vibert berbicara mengenai manajemen kebijakan dan bukanya manajemen isu.Isu,yang dimunculkan oleh organisasi, menjadi subyek diskusi bagi semua yang bisa mempengaruhi kebijakan public. Ini yang disebut Crable dan Vibert dengan pendekatan ”saringan” terhadap manajemen isu dan pengaruh kebujakan (Monstad,2003:35)

4.      Pendekatan terintegrasi (Engagement approach)
Pendekatan terintegrasi diperkenalkan oleh Taylor, Vasquez dan Doorley pada September 2003. Pendekatan terintegrasi terhadap manajemen isu menjelaskan bahwa dialog aktif atau keterlibatan antara organisasi dan publiknya merupakan cara yang paling efektif dalam mengelola isu. Teringerasi (engagement) berarti bahwa stakeholder relevan dipertimbangkan, dan dilibatkan dalam keputusankeputusan organisasi. Menurut Taylor, Vasquez dan Doorley, konsep terintegrasi secara implisit banyak berasal dari kajian public relations. Terintegrasi (engagement) merupakan sebuah istilah menyeluruh bagi manajemen isu masa depan karena pendekatan ini menyatukan dan memperluas pendekatan sistem, stratejik dan retoris. Lebih lanjut, pendekatan ini merupakan sebuah metafora bagi teoritis dan praktisi seiring dengan mereka menjelaskan hubungan-hubungan dalam manajemen isu.
Ada tiga asumsi penting yang berkaitan dengan pendekatan terintegrasi. Pertama, semua organisasi berusaha memaksimalkan hasil atau outcome mereka. Manajemen isu membantu organisasi tumbuh dan bertahan hidup karena memberikan organisasi alat untuk memaksimalkan peluang.  Bagaimana pun kepentingan organisasi tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Oleh karena itu, pendekatan integrasi mengedepankan pemahaman, bahwa kepentingan organisasi dikontekstualisasikan oleh hubungan dengan beragam publiknya. Kedua, pendekatan integrasi yang menjelaskan kepentingan publik merupakan konsekuensi yang muncul dikarenakan asumsi pertama. Dalam pendekatan ini, publik dilihat sebagai sumber daya dengan mana organisasi bergantung.   Terakhir fokus pada konvergensi antar kepentingan-kepentingan ini.

B.     Siklus Krisis

1. Tahap pertama – Periode Krisis Prodromal

Suatu krisis besar biasanya bermula dari krisis kecil sebagai pertanda atau gejala awal yang akan menjadi suatu krisis sebenarnya yang bakal muncul di masa yang akan datang. Tahap ini disebut warning stage karena ia memberi tanda bahaya mengenai simtom-simtom yang harus segera diatasi.
Mengacu pada definisi krisis, tahap ini juga merupakan bagian dari ‘titik balik’ (turning point). Manajemen yang gagal menangkap sinyal akan membuat krisis memasuki tahap yang lebih serius, yakni krisis akut. Oleh karen itu, tahap ini disebut juga sebagai tahap prakrisis (precrisis). Tahap prodromal biasanya muncul dalam salah satu dari tiga bentuk ini:
a) Jelas sekali. Gejala-gejala awal terlihat jelas. Misalnya ketika karyawan datang ke manajemen untuk meminta kenaikan gaji, perbedaan pendapat di antara direksi, kerusakan alat di pabrik (internal); selebaran gelap di masyarakat (eksternal).
b) Samar-samar. Gejala yang muncul tampak samar-samar karena sulit menginterpretasikan dan menduga luasnya suatu kejadian. Misalnya deregulasi, munculnya pesaing baru, ucapan pembentuk opini kadang-kadang tidak langsung terasa dampaknya pada perusahaan, namun dapat menjadi masalah besar di kemudian hari.
c) Sama sekali tidak terlihat. Gejala-gejala krisis bisa tak terlihat sama sekali. Misalnya kerugian yang dialami salah satu produk atau salah satu lini yang dirasakan wajar oleh sebuah perusahaan. Namun yang terpikirkan oleh perusahaan tersebut adalah seberapa jauh kerugian itu dapat menjadi kanibal seperti kasus Bank Summa yang menelan saham keluarga Suryadjaya pada PT. Astra Internasional.
Meskipun krisis pada tahap ini sangat ringan, pemecahan dini secara tuntas sangat penting karena masalahnya masih mudah ditangani dan belum menimbulkan komplikasi.


2. Tahap kedua – Periode Krisis Akut

Bila prakrisis tidak terdeteksi dan tidak segera diambil tindakan yang tepat, maka akan timbul masalah yang lebih fatal. Di tahap ini orang mengatakan “telah terjadi krisis”. Meski bukan di sini awal mulanya krisis, orang menganggap suatu krisis dimulai di sini karena gejala yang samar-samar atau sama sekali tidak jelas tadi mulai terlihat jelas.
Tahap ini sering disebut the point of no return. Artinya, jika sinyal-sinyal yang muncul pada tahap prodromal tidak digubris, maka ia akan masuk ke tahap akut dan tidak bisa kembali lagi. Kerusakan sudah mulai bermunculan, reaksi mulai berdatangan, issue menyebar luas.
Salah satu kesulitan besar dalam menghadapi krisis pada tahap akut adalah intensitas dan kecepatan serangan yang akan datang dari berbagai pihak yang menyertai tahap ini. Kecepatan ditentukan oleh jenis krisis yang menimpa perusahaan, sedangkan intensitas ditentukan oleh kompleksnya permasalahan.
Tahap akut adalah tahap antara, yang paling pendek waktunya dibanding dengan tahap-tahap lainnya, tetapi merupakan masa yang cukup menegangkan dan paling melelahkan bagi tim yang menangani masalah krisis tersebut. Bila ia lewat, maka umumnya akan segera memasuki tahap kronis.

3. Tahap ketiga – Periode Krisis Kronis

Berakhirnya tahap akut dinyatakan dengan langkah-langkah pembersihan sehingga tahap ini juga sering disebut sebagai fase pembersihan. Peristiwa pun sudah diberitakan dengan jelas di media massa.
Tahap ini juga merupakan masa pemulihan citra dan upaya meraih kembali kepercayaan dari masyarakat, di samping juga merupakan masa untuk mengadakan “introspeksi” ke dalam dan keluar mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi (recovery & self analysis).
Masa ini berlangsung cukup panjang, tergantung pada jenis dan bentuk krisisnya. Namun diharapkan seorang crisis manager dapat memperpendek tahap ini karena semua orang yang terlibat sudah letih dan pers mulai bosan memberitakan kasus tersebut.
Masa ini juga sangat menentukan berhasil atau tidaknya perusahaan melewati masa krisis: keguncangan manajemen dan kebangkrutan perusahaan atau kepulihan manajemen dan perusahaan seperti sedia kala. Contohnya adalah Bank Duta. Begitu selesai mengatasi masa krisis, perbaikan struktur manajemen atau organisasi, rekapitalisasi dan operasinya, bank tersebut tumbuh dan berhasil pulih kembali dalam khazanah dunia perbankan.

4. Tahap keempat – Periode Resolusi Krisis

Merupakan tahap penyembuhan (pulih kembali). Perusahaan yang terkena krisis dapat bangkit kembali setelah melalui proses dan pemulihan sistem produksi, pelayanan jasa, strukturalisasi manajemen, rekapitalisasi dan operasinya. Setelah itu baru memikirkan pemulihan citra tahap berikutnya untuk mengangkat nama perusahaan di mata khalayaknya dan masyarakat luas.
Meski bencana besar telah berlalu, manajemen tetap perlu berhati-hati karena terdapat kemungkinan krisis kembali ke keadaan semula (tahap prodromal). Khususnya departemen humas, harus lebih siap dengan “strategi manajemen krisis” untuk mengantisipasi hal serupa di kemudian hari, baik untuk krisis yang sama maupun untuk krisis yang lain.

Contoh ; 6 Value yang Harus dimiliki oleh Seorang Humas


6 Value yang Harus dimiliki oleh Seorang Humas


·         Trustworthy
Yang dimaksud dengan trustworthy adalah ketika seseorang dipercaya oleh individu lainnya. Sebagai seorang public relations yang baik, kinerja dan kejujuran menjadi hal utama yang dapat menciptakan trustworthy. Kinerja yang baik akan membuat individu lain mempercayai kita dalam mengerjakan sesuatu sehingga mereka tidak enggan untuk memberikan tugas kepada kita.
·         Responsibility
Tanggung jawab merupakan hal yang harus kita dilakukan sebagai manusia semasa hidup kita. Tanggung jawab adalah hasil dari keinginan. Sebagai seorang public relations yang baik, sudah sepatutnya bertanggung jawab atas apa yang ia putuskan dan yang ia perbuat.
·         Respect
Respect memiliki banyak arti yaitu, menghargai, menghormati, dan saling toleransi terhadap sesama.  Dalam dunia public relations, dengan sikap respect, komunikasi kita terhadap orang lain akan menjadi lebih baik, kita dapat merasakan rasa kekeluargaan yang sangat kuat karena kita saling mengakrabkan diri satu sama lain entah itu dengan cara kita menghormati oranglain, saling perhatian dengan teman ataupun keluarga.
·         Integritas
Integritas adalah nilai diri. Sebagai seorang public relations, sudah seharusnya bersikap professional dalam segala situasi dan kondisi.
·         Caring
Caring adalah melakukan hal-hal sederhana tapi dapat menyenangkan hati orang lain. Contohnya dalam dunia public relations, seorang public relations harus mempunyai sikap yang ramah tidak hanya kepada klien, atasan maupun rekan kerja.
·         Loyal
Berperan untuk membuat lingkungan yang lebih baik melalui pengabdian. Sebagai contoh, public relations memberikan beasiswa kepada anak-anak bukan semata-mata bekerja ingin mendapat penghasilan, tapi memang benar-benar dari dalam hati.